Selasa, 23 September 2008

FOKUS PADA SASARAN

Suatu kegiatan yang dijalankan tentunya mempunyai target, yang sering disebut maksud dan tujuan atau visi-misi. Pada tulisan ini, target tersebut dibahasakan dengan kata sasaran agar tidak bias dengan bahasa target yang sudah melekat bagi setiap pekerja sebagai beban yang harus dicapai. Penentuan sasaran ini terkesan mudah karena hanya cukup bisa ber”mimpi” atau memang sudah default seperti halnya “mati masuk surga” bagi setiap manusia. Dan seringkali sasaran, dibuat secara berjenjang dan berkesinambungan seperti jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Namun demikian, pada dasarnya sasaran yang utama adalah tetap satu yaitu inti dari sasaran itu sendiri.
Atas dasar itulah, penulis mencoba menganalisa adanya sasaran-sasaran lain (sasaran jangka pendek) yang menjadikan kaburnya sasaran utama. Seluruh komponen diarahkan untuk mengejar tercapainya sasaran jangka pendek yang tidak terhubung dengan sasaran utamanya. Padahal sesungguhnya sasaran jangka pendek tersebut bukanlah suatu sasaran yang akan dituju, hanyalah sebuah alat bantu agar kegiatan sesuai jalur untuk menuju sasaran utama.

Dalam membahas perihal sasaran, penulis mencoba menggambarkan pada kegiatan menembak. Kebetulan penulis telah mendapat kesempatan untuk ikut latihan menembak di Kopasus Grup II Kandang Menjangan, menggunakan senjata serbu organik (SS1). Pada kegiatan menembak, sasaran telah ditentukan dalam bentuk lingkaran dengan lingkaran terkecil (pusat lingkaran) mempunyai nilai tertinggi dibanding lingkaran sebelah luar yang lebih besar (lihat gambar). Untuk urusan kualitas, maka tembakan tepat pada fokus atau tembakan tepat mengenai titik tengah lingkaranlah yang dinyatakan nilai tertinggi. Sehingga petembak paling jitu dapat dengan mudah dipilih berdasarkan hasil tembakannya.

Pada senjata yang digunakan telah dilengkapi dengan alat bantu bidikan (pejera dan pisir, utk senjata jenis SS1) untuk memudahkan dalam membidik sasaran. Pejera dan pisir merupakan alat bidikan yang saling mendukung, tidak berdiri sendiri. Bentuknya telah ditentukan dengan ukuran dan kesimetrisan, kualitasnya tidak ditentukan oleh besar maupun ketebalannya. Antara pejera dan pisir seimbang, sehingga titik sasaran bisa dibidik dengan tepat.
Sehingga kejituan petembak, selain karena keahliannya (termasuk ketajaman mata), juga kemampuan dalam mengendalikan resources (termasuk hentakan, toleransi ketepatan dan cara memegang senjata) dan kemampuan dalam memperhitungkan kekuatan angin disekelilingnya.

Definisi sasaran
Dari ilustrasi diatas menunjukkan bahwa sesungguhnya sasaran bisa diartikan sebagai satu-satunya target yang akan dicapai, tidak perlu dikotak-kotakkan dengan jenjang waktu (pendek, menengah, panjang) Adapun untuk mencapainya perlu dibutuhkan alat bantu agar kegiatan bisa fokus pada sasaran. Alat Bantu bukan untuk menghitung sebagai penentu tercapai atau tidak sasaran tersebut. Pencapaian sasaran hanya ditentukan oleh nilai sasaran itu sendiri, termasuk masalah kualitas pencapaiannya.

Penentuan sasaran dan bidikan
Jika analogi diatas kita terjemahkan dalam dunia bisnis pada perusahaan jasa profit, maka dominan akan setuju manakala yang disebut sasaran adalah KEUNTUNGAN atau EBITDA (termasuk Growth). Mengenai fokusnya bisa ditetapkan sebesar stratch the goal yang akan dicapai misalnya 110% dari ebitda yang ditetapkan.
Sementara bidikan bisa diartikan dengan key performance sebagai alat bantu untuk memudahkan mencapai sasaran. Untuk perusahaan jasa antara lain meliputi:
• NAL (selisih antara sales dan cabutan)
• Quality (persentase jumlah gangguan/Q gg)
• Respon time (kecepatan perbaikan gangguan dan instalasi/Mttr-i)
• Effisiensi Anggaran (penyerapan anggaran)


Ironisnya… saat ini yang disebut sasaran adalah fokus sasaran (ebitda) yang dikelilingi oleh sasaran bantu berupa key performance. Sehingga dengan mudahnya fokus diperlebar menjadi ebitda ditambah key performance. Hal ini berakibat cukup fatal, karena justru key performance yang menjadi idola untuk dicapai sehubungan nilai yang bisa diatur dan berada dibawah kendali pelaksana. Dan pada akhirnya key performance pencapaiannya tidak inline lagi dengan sasaran utama (ebitda). Kinerja individu tidak inline dengan kinerja unit, dan kinerja unit tidak sejalan dengan kinerja perusahaan.

Fokus Pada Sasaran
Dalam menembak, sasaran akan tepat terkena fokus manakala petembak jitu tersebut memanfaatkan bidikan dengan optimal, mampu mengendalikan senjata termasuk hentakan dan toleransinya serta memperhitungkan pengaruh angin. Hal ini hampir sama dengan dunia usaha, bahwa fokus pada sasaran terjadi dengan cara:

1. Memanfaatkan key performance dengan optimal.
Pada kesempatan ini tidak membahas bagaimana mencapai key performance, hanya dibahas mengenai bagaimana mengoptimalkannya. Key performance akan optimal manakala:
• Key performance ditentukan hanya pada performance kunci yang saling terkait dan ada hubungan langsung dengan sasaran utama.
• Pencapaiannya bukan semata berdasarkan jumlah nilai namun harus lebih diutamakan kualitas.
• Prioritas kegiatan ditentukan bukan untuk mencapai key performance, melainkan berdasarkan perhitungan pencapaian sasaran utama.
• Evaluasi pencapaian harus selalu dihubungkan pada sasara utama (laba / ebitda).

2. Seluruh kekuatan terorganisir dengan baik.
Harus dipahami oleh semua komponen bahwa hanya dengan sinergilah (esprit de corp), sasaran utama akan tercapai. Sinergi semua pihak yang terkait, mulai dari internal tim, eksternal tim (unit lain), mitra, pelaksana maupun pimpinan. Gerakan harus seirama, mengikuti arah yang telah ditetapkan oleh pengambil keputusan. Seluruh keputusan harus dilaksanakan tanpa ada pembahasan berikutnya, apalagi penggembosan dan menghindarkan diri dari rasa ketidakyakinan pada kegiatan tersebut.
Berikut beberapa hal yang perlu dipahami oleh seluruh komponen organisasi:
• Yang disebut sinergi disini bukan satu kegiatan dilakukan bersama-sama, karena hal ini mengurangi rasa tanggung jawab semua komponen. Sinergi adalah konsentrasi pada kegiatan masing-masing mendukung tercapainya sasaran utama melalui prioritas penggunaan alat bantu (key performance) yang telah diputuskan pimpinan. (Ingat... pasukan pemanah yang ada dibukit uhud turun ke medan pertempuran untuk mengambil harta rampasan, menjadikan malapetaka bagi pasukan itu sendiri).
• Meeting yang berlebihan, meeting untuk persiapan meeting dan meeting di dalam meeting benar-benar harus dihilangkan. Seluruh kegiatan harus konsentrasi dan termanage dengan baik sehingga waktu benar-benar termanfaatkan secara optimal dan tidak hanya menimbulkan kecapekan yang tiada hasil. Salah satu solusi kegiatan ini adalah melalui one on one meeting, satu permasalahan yang spesifik tidak perlu melibatkan semua unit.
• Sistem kegiatan matrik bisa sebagai alternative solusi dalam rangka melaksanakan kegiatan urgent yang belum teralokasikan oleh organisasi.
• Menggerakkan tim dengan imbalan (fee / vitamin) merupakan manuver yang membahayakan organisasi (percaloan, kewajiban ditinggalkan dsb). EGC (Employee Get Customer) adalah default, CGC (Customer Get Customer) adalah created. Hal ini berarti EGC harus tanpa ada imbalan (fee sales misalnya) dan customer lah yang akan mendapat imbalan melalui CGC.

3. Mampu mengenali dan memenangkan persaingan.
Dalam kompetisi pasti akan memunculkan berbagai inovasi, baik teknis maupun marketing. Dalam tataran operasional, disamping memunculkan inovasi, implementasi “your event is my event” merupakan langkah elegant dan sportif dalam menjawab persaingan. Head to head (inovasi dan kualitas), menjadikan customer benar-benar akan dimanjakan dan dapat mengambil manfaat dari persaingan. Hanya dengan menggalakkan inovasi dan meningkatkan kualitaslah, persaingan akan dimenangkan.

Demikian, semoga tulisan ini bisa diambil manfaatnya meskipun sangat sederhana dan dangkal. Memberikan nilai bagi pembaca agar berteguh hati dalam mencapai sasaran utama, terimakasih.

Sabtu, 13 September 2008

Anakku....., Hormatilah!

Apa yang harus dihormati, siapa yang harus menghormati dan bagaimana caranya, mungkin tiga pertanyaan ini perlu kita renungkan dalam hal hormat-menghormati. Sehingga pertanyaan ke empat, mengapa harus saling menghormati tidak perlu terjawab dalam bentuk tindakan. Tindakan yang hanya mengakibatkan kekecewaan dan kerugian semua pihak.

Sungguh sedih melihat bagaimana polisi pamongraja harus menyita gerobak para pedagang. Dan bagaimana getirnya kita melihat tetesan airmata dan tatapan keputus-asaan para pedagang. Hal ini mungkin menjadi kebiasaan waktu memasuki bulan suci romadlon, dan terjadi dimana-mana. Mengapa ini semua harus terjadi…, mengapa jawaban tiga pertanyaan diatas tidak kita siapkan sebelum munculnya jawaban berupa penyesalan atas pertanyaan keempat.
Untuk masalah hormat-menghormati pada bulan romadlon, tentunya masalah ritual kaum muslimin dalam menjalankan puasa yang harus dihormati. Mengenai siapa yang harus menghormati, ya semua pihak... semua orang. Berikut alternatif cara yang saya tawarkan untuk anakku yang sudah berpuasa (9 th) dan anakku yang belum berpuasa (5 th & 1 th):

Yang puasa, Hormatilah yang tidak puasa:
* Biarkan mereka untuk memenuhi kebutuhannya, terkait makan dan minum seperti halnya kita manakala tidak berpuasa. Biarkan mama menyediakan makan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak puasa. Bayangkan bagaimana kita sendiri manakala dalam keseharian (waktu tidak puasa), tiba-tiba tidak ada makanan dan minuman.
* Bersikaplah seperti saat kita puasa sunnah, senin-kamis misalnya, tidak perlu menunjukkan kita berpuasa.
* Jaga spirit dan aktivitas, sehingga mereka merasa tidak segan manakala mau makan dan berkegiatan.

Yang tidak puasa, Hormatilah yang berpuasa:
* Makan dan minum seperti biasanya, hanya saja tidak perlu menunjukkan secara frontal dan terbuka. Tempat makan dan minum tentunya perlu ada penutup, sehingga yang makan tidak merasa risih...
* Memahami akan berkurangnya stamina yang puasa.
* Toleran, menahan aktivitas-aktivitas yang mengurangi kekhusukan orang puasa.

Anakku… pada bulan puasa ini syetan terbelenggu… karena amunisi setan didiri kita tidak kita penuhi, yaitu makan dan minum.