
Duch... ternyata melahirkan itu sungguh berat ya... antara hidup dan mati. Meskipun anak sudah 3, namun baru kali ini aku ikut dalam proses melahirkan. Mulai dari kontraksi lambat, semakin cepat hingga detik akhir dilalui dengan penuh ketegangan dan rasa sakit. Dalam 2 jam terakhir, tidak tega kumelihat wajah istri dan semakin tidak kuat ku mendengar suara yang keluar dari mulutnya. Ku hanya bisa komat-kamit utk berdo'a sebisanya hingga pada puncaknya tak kuasa untuk menahan tetesan airmata. Terbersit dalam benakku, mestinya anakku cukup 1 saja manakala aku tahu proses ini sedemikian beratnya. Begitu terdengar tangis bayi, tampak kelegaan semua pihak mulai dari dokter hingga perawat, termasuk istri terlihat senyuman dalam keletihan. Senyuman yang penuh keikhlasan yang mampu melupakan rasa sakit yang dideranya tadi.
Sementara diriku, tetap tak mampu utk berdiri tegak dan membutuhkan waktu cukup lama,
hanya utk mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga bayiku . Itupun perlu ditrigger oleh suara perawat menyuruhku utk mengambil air wudlu.
Masih terngiang olehku, apa yang kulihat dan kudengar dari proses persalinan istriku. Entah sampai kapan trauma ini akan menghantuiku, padahal saat ini istriku sendiri sudah melupakannya dengan berganti kesibukan untuk menyusui dan mengganti popok yang tidak kenal waktu. Dan nyatanya diapun bisa untuk melahirkan hingga 3 kali, dan bahkan mungkin saja 4 atau 5 kali. Yach... al jannatu tahta aqdamil ummahat.
Demikian, hanya sekedar sedikit sharing sbg renungan betapa ibu dan istri kita, sangat amat layak utk kita hormati dan sayangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar