Jumat, 15 Agustus 2008

Pentingnya sebuah evident

Tidak jarang kita menemui kondisi dimana diri kita sebagai kepala keluarga disibukkan dan dibuat capek oleh polah sang anak, meskipun do’a untuk mendapatkan anak yang sedap dipandang mata ”Qurrota A’yun”, pun selalu dipanjatkan setiap waktu.

Suatu waktu kukeluhkan perilaku anakku ke ibu (yang saat itu ada juga kakakku), Ibuku hanya berucap sabarlah dan selalulah berdo’a mohon petunjuk yang Maha Kuasa. Namun apa kata kakakku, ” Itu masih mudah dibanding kamu waktu kecil, kamu dulu membuat capek seluruh isi rumah ”. Kemudian kakakku meneruskan cerita dengan menggebu-gebu perihal kenakalan semasa kecilku yang mengharuskan kakakku mengalah, menghabiskan waktunya & menguras tenaganya, lebih-lebih kepada ibuku. Bisa kubayangkan bagaimana keletihan dan emosi ibuku ketika itu, mengasuh anak hingga 7 orang. Dan saat ini kita pun merasakannya...

Yach...anak-anak memang kadang berulah (sebutan perilaku yang membuat kita gerah), yang tua dituntut untuk mengikutinya, kakaknya dituntut untuk mengalah (dan gimana ketika tidak mau mengalah) serta bagaimana ketika kita harus menasehatinya berulang karena perilakukanya membahayakan dirinya dan orang lain. Memang tidak bisa dipungkiri kadang emosipun muncul, melalui suara yang keras dan kadang menarik dengan paksa. Namun ketika malam tiba, dalam kesunyian kita tertawa sendiri dan kadang merasa bersalah apa yang telah kita perbuat terhadap anak kita.

Ternyata... ketika kubuka buku harian anakku, kuhitung lembar demi lembar catatan yang menyenangkan dan catatan yeng menjengkelkan, hasilnya 85 % bercerita yang berkategori menyenangkan. Memang catatan tersebut tidak lepas dari emosi dan harapan dari penulis (ortunya), tapi setidak-tidaknya bahwa punya anak yang masih kecil-kecil ini sangat membanggakan. Menyikapi kenikmatan mengasuh anak kecil ini, kucoba membuat buku catatan hingga umur 5 tahun. Aku hanya berharap buku harian tersebut, menciptakan nilai dan sebagai salah satu referensi anakku ketika mereka menjadi orang tua. Dan kelak ... mengingatkanku ketika kembali merindukan tangisan anak kecil.

Dari uraian diatas terdapat nilai yang bisa diambil:
1. Potret masa lalu (melalui cerita ibu dan kakak) bisa menurunkan emosi dan memberikan feedback, menghasilkan pikiran yang jernih. Bisa dibayangkan..., bagaimana jika ibu tidak bisa hadir dalam masa kritis tersebut?, terimakasih ibu (dan kakak) yang telah memberikan evident.
2. Evident akan menghindarkan diri dari penyesalan dikemudian hari, akibat mengedepankan emosi dalam mengambil keputusan.
3. Evident (Catatan harian) akan menciptakan suasana yang obyektif, sehingga tidak terlena dalam menyikapi permasalahan yang terjadi, baik yang positif maupun yang negatif.
4. Evident (Catatan harian) akan bermanfaat (sebagai feedback dan tambahan referensi) ketika sosok ibu tidak bisa dihadirkan lagi.
5. Evident (Catatan harian) akan mengembalikan kenangan bagi pelakunya, yang merupakan salah satu nilai dari sebuah evident.
6. Evident menjadikan kita semakin menghormati sosok pendahulu kita (ibu, bapak, kakak dsb).

Tidak ada komentar: