Senin, 11 Agustus 2008

Istriku…, aku berharap.

Ikan membusuk pasti dari kepalanya, bukan ekornya. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita terhadap tatanan kehidupan rumahtangga. Rumah tangga kita hancur bukan karena anak-anak yang susah diatur. Anak menjadi sholeh atau tidak tergantung dari didikan orang tuanya. Siapa sebenarnya yang akan menjadikan anak-anak kita menjadi sholeh-sholehah. Kalau tanggung jawab jelas dibebankan kepada bapak selaku kepala rumah tangga. Ditangannya lah, arah dan kebijakan kehidupan rumah tangga ditentukan. Dan bapaklah yang nantinya diakherat memikul pertanggungjawabannya dalam memimpin rumah tangga.
Namun sesungguhnya…, ibulah yang akan membentuk jiwa dan karakter anak menjadi sholeh atau sholehah. Dengan kedekatan antara ibu dan anak, serta waktu yang dimiliki ibu untuk mendidik anak, menjadi factor utama mengapa ibu berperan dominant dalam menentukan kesholehan anak. Kesabaran seorang ibu mampu meluluhlantakkan kekerasan anak-anak. Kematangan emosi seorang ibu, mampu berpikir dan bertindak secara jernih dalam menghadapi persoalan.
Dan… ternyata menurut sejarah bahwa memang ibu lah sosok penentu kesholehan anak, bukan bapaknya.
Seorang putra nabi pun…, Kan’an putra Nabi Nuh, bukan jaminan akan menjadi sholeh, karena ibunya pun tidak sholeh.
Anak yang dibesarkan pada bapak yang kejam, jahat dan tidak beriman pun…, Nabi Musa oleh Fir’aun, bukan jaminan akan mengikuti orangtuanya, malah menjadi seorang penyampai kebenaran. Hal ini karena beliau dididik langsung oleh Aisyah wanita sholehah.
Alangkah indahnya manakala pendidikan anak bisa maksimal karena berada dalam lingkungan yang baik dan dididik oleh orangtua yang sholeh. Kesholehan nabi ibrahim dan ke-sholehah-an siti hajar dan siti sarah, menjadikan Ismail dan Ishaq sebagai orang mulia.Istriku… aku berharap besar padamu, aku berjanji akan membantumu dalam mencetak generasi terbaik dari keluarga kita. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan meridloinya, Amin!

2 komentar:

wellcome Agus Riyono Blog mengatakan...

Cocok Mir, lanjut terus.....

kebenaran mengatakan...

jamu psikologi kunjungi www.setansatan.blogspot.com jamu memang pahit